Computer Engineering Telkom University Surabaya

Kemampuan robot untuk bergerak dan berinteraksi secara cerdas dengan lingkungan bergantung pada satu kemampuan fundamental: mengenali di mana mereka berada dan bagaimana lingkungan di sekitar mereka tersusun. Tantangan ini menjadi inti dari bidang riset yang disebut Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) — teknik yang memungkinkan robot membangun peta lingkungan sambil memperkirakan posisinya secara bersamaan.

Konsep SLAM pertama kali diperkenalkan pada akhir 1980-an dalam penelitian robotika mobile. Tujuannya sederhana, tetapi sulit diwujudkan: jika robot tidak mengetahui posisi awalnya dan tidak memiliki peta lingkungan, bagaimana ia dapat menentukan posisinya sambil membangun peta secara bersamaan? Jawaban dari pertanyaan ini melibatkan kombinasi antara matematika, probabilistik, dan pengolahan sensor canggih.

Secara umum, algoritma SLAM bekerja melalui dua proses utama: localization (menentukan posisi robot di dalam peta) dan mapping (membangun representasi lingkungan berdasarkan data sensor). Robot menggunakan data dari sensor seperti LiDAR, kamera stereo, radar, atau IMU (Inertial Measurement Unit) untuk memperkirakan jarak, arah, dan struktur ruang di sekitarnya. Dengan algoritma probabilistik seperti Extended Kalman Filter (EKF), Particle Filter, atau Graph-Based Optimization, robot dapat memperbarui estimasi posisinya secara terus menerus dengan akurasi tinggi.

Dalam praktik modern, teknologi SLAM telah berkembang ke berbagai bentuk. Visual SLAM (vSLAM) menggunakan kamera sebagai sensor utama, memungkinkan robot memetakan lingkungan hanya dengan citra visual. Sistem ini banyak digunakan dalam drone, robot eksplorasi, dan kendaraan otonom. Beberapa varian terkenal termasuk ORB-SLAM, LSD-SLAM, dan DSO (Direct Sparse Odometry), yang mampu bekerja secara real-time di perangkat komputasi kecil seperti prosesor mobile.

Di sisi lain, LiDAR-based SLAM menjadi pilihan utama dalam kendaraan otonom industri seperti Tesla, Waymo, dan Baidu Apollo. Sensor LiDAR memancarkan sinar laser yang memantul dari objek di sekitar untuk mengukur jarak dengan presisi tinggi. Hasilnya adalah peta tiga dimensi yang sangat detail, memungkinkan mobil mengenali rintangan dan jalur dengan tingkat akurasi hingga sentimeter. Menurut penelitian dari Zhang dan Singh (2014), algoritma LOAM (LiDAR Odometry and Mapping) dapat menghasilkan estimasi posisi kendaraan dengan kesalahan kurang dari 2 persen dalam lingkungan kompleks.

Selain navigasi kendaraan, SLAM juga digunakan dalam bidang robotik rumah tangga, seperti penyedot debu pintar. Produk seperti iRobot Roomba atau Xiaomi Vacuum menggunakan SLAM untuk menavigasi rumah tanpa menabrak dinding atau mengulangi jalur yang sama. Dalam skala lebih besar, SLAM juga berperan penting dalam eksplorasi ruang angkasa dan arkeologi digital, di mana robot digunakan untuk memetakan area yang sulit dijangkau manusia.

Dengan kemajuan teknologi komputasi dan kecerdasan buatan, SLAM kini tidak hanya digunakan untuk navigasi, tetapi juga sebagai dasar untuk persepsi spasial otonom. Dalam sistem seperti augmented reality (AR) dan metaverse, SLAM digunakan untuk mengenali permukaan, jarak, dan orientasi objek di dunia nyata agar visual digital dapat ditempatkan secara realistis. Google ARCore dan Apple ARKit, misalnya, menggunakan varian visual-inertial SLAM untuk memproyeksikan objek virtual secara stabil di ruang tiga dimensi.

Meski sudah matang, tantangan SLAM masih terus diteliti. Faktor seperti pencahayaan yang berubah, tekstur permukaan yang minim, atau medan yang dinamis dapat mengganggu akurasi sistem. Oleh karena itu, riset terkini menggabungkan SLAM dengan deep learning untuk menciptakan model yang lebih adaptif dan kontekstual terhadap lingkungan. Pendekatan ini dikenal sebagai Deep SLAM, yang menggabungkan kekuatan visual neural network dengan prinsip matematis dari SLAM klasik.

Hampir dua abad setelah Faraday menemukan prinsip elektromagnetik yang melahirkan motor dan generator, kini SLAM menjadi fondasi bagi generasi baru mesin cerdas. Ia memungkinkan robot, kendaraan otonom, dan sistem digital memahami dunia secara spasial, membuka jalan bagi masa depan di mana manusia dan mesin dapat berbagi ruang fisik dengan harmoni dan presisi.


Referensi

  1. Durrant-Whyte, H., & Bailey, T. (2006). Simultaneous Localization and Mapping: Part I. IEEE Robotics & Automation Magazine, 13(2), 99–110. https://doi.org/10.1109/MRA.2006.1638022
  2. Bailey, T., & Durrant-Whyte, H. (2006). Simultaneous Localization and Mapping: Part II. IEEE Robotics & Automation Magazine, 13(3), 108–117. https://doi.org/10.1109/MRA.2006.1678144
  3. Zhang, J., & Singh, S. (2014). LOAM: Lidar Odometry and Mapping in Real-time. Robotics: Science and Systems Conference (RSS).
  4. Mur-Artal, R., Montiel, J. M. M., & Tardós, J. D. (2015). ORB-SLAM: A Versatile and Accurate Monocular SLAM System. IEEE Transactions on Robotics, 31(5), 1147–1163. https://doi.org/10.1109/TRO.2015.2463671
  5. Cadena, C., et al. (2016). Past, Present, and Future of Simultaneous Localization and Mapping: Toward the Robust-Perception Age. IEEE Transactions on Robotics, 32(6), 1309–1332. https://doi.org/10.1109/TRO.2016.2624754

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *